Sabtu, 06 Oktober 2012

Profil Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang Jawa Timur

Sebagai salah satu dari empat pondok pesantren besar di empat penjuru kota Jombang, Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul ?Ulum (secara harfiah artinya Lautan Ilmu) lebih dikenal dengan nama ponpes Tambakberas. Letaknya cukup strategis yakni di belahan utara kota Jombang, masuk dalam wilayah administratif Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang Kota. Sebagai pintu masuk Jombang dari arah utara (Ploso, Babat, Lamongan, Bojonegoro, Gresik dan Tuban), ponpes Tambakberas berlokasi di tepi jalan raya Jombang ? Tuban
Sejarah
Lokasi awal yang menjadi cikal bakal Ponpes Tambakberas disebut Pondok Selawe (selawe artinya duapuluh lima). Kebetulan awalnya ponpes ini memang hanya menerima santri sejumlah 25 orang dan didirikan pada tahun 1825 seusai Perang Diponegoro. Pendiri ponpes adalah KH Abdus Salam yang juga dikenal dengan nama Mbah Shoichah (artinya bentakan yang membuat orang gentar). Ada pula yang menyebut ponpes Tiga, karena jumlah kamar yang ada hanya 3 buah. Disamping mendakwahkan syariat Islam, Mbah Shoichah juga mengajarkan pengobatan dan kanuragan (ilmu bela diri) pada santri-santrinya. Mbah Shoichah mengasuh ponpes Selawe dalam kurun waktu tahun 1825 ? 1860.
Lokasi ponpes Selawe saat ini menjadi makam keluarga bani Chasbullah. Diantaranya makam KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri dan penggerak Nahdhatul Ulama (NU). Salah satu pendiri NU ini dikenal pula dengan sebutan Mbah Wahab yang merupakan generasi ke-4 dari pendiri ponpes Tambakberas. Di kompleks makam ini terdapat pula makam KH Abdul Wahib Wahab (dari generasi ke-5) mantan Menteri Agama Republik Indonesia.
Sepeninggal beliau, ponpes diasuh oleh KH Ustman (Mbah Ustman) yang merupakan menantu pertama Mbah Syaichah. Oleh KH Ustman lokasi ponpes dipndah sekitar 100 meter ke arah selatan dari ponpes Selawe, tepatnya di dusun Gedang desa Tambakrejo. Karena itu ponpes ini juga disebut ponpes Gedang. Mbah Ustman dikenal sebagai kiai tasawuf dan menjadi salah satu mursid Thoriqoh Naqsabandiyah pada zamannya. Ponpes Gedang diasuh oleh Mbah Ustman dalam kurun tahun 1860 ? 1910. Menantu pertama Mbah Ustman adalah KH Hasyim Asy?ari, yang juga dikenal sebagai salah satu pendiri NU. Selanjutnya, KH Hasyim Asy?ari mengajak santri-santri thoriqoh membuka ponpes baru di desa Keras kecamatan Diwek. Lokasi ini berjarak sekitar 18 km arah keselatan dari Tambakberas. Ponpes inilah yang menjadi awal berdirinya ponpes Tebuireng yang legendaris itu.
Kalau Mbah Ustman dikenal mengembangkan ilmu tasawuf, maka adik ipar beliau yaitu KH Said mengajarkan ilmu syariat. KH Said mengajar di ponpes yang ada di dusun Tambakberas desa Tambakrejo. Lokasi cukup dekat dengan ponpes Gedang, kira-kira hanya berjarak 100 meter. Setelah Mbah Ustman wafat, sebagian santri yang tidak ikut membantu KH Hasyim Asy?ari, akhirnya dipindah ke ponpes Tmbakberas asuhan KH Said ini. Sepeninggal KH Said, ponpes diasuh oleh putra beliau yaitu KH Chasbullah. Dari KH Chasbullah inilah ponpes terus dikembangkan oleh putra putrinya. Yaitu KH Abdul Wahab, KH Abdul Hamid, Nyai Fatimah dan KH Abdurrohim. Pada tahun 1967, KH Abdul Wahab Chasbullah memberi nama ponpes Bahrul Ulum. Namun orang juga tetap mengenal ponpes ini sebagai ponpes Tambakberas seperti dua ponpes besar lainnya. yaitu ponpes Denanyar (Mambaul Maarif) dan ponpes Rejoso (Darul Ulum). Berbeda dengan ponpes Tebuireng yang memang hanya disebut dengan satu nama saja, yaitu ponpes Tebuireng.
Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) didirikan sekitar pada tahun 1825 di dusun Gedang kelurahan Tambakberas. Oleh KH. Abdus Salam, Bersama pengikutnya ia kemudian membangun perkampungan santri dengan mendirikan sebuah langgar (mushalla) dan tempat pondokan sementara, buat 25 orang pengikutnya. KH. Abdus Salam adalah seorang keturunan raja Brawijaya dari Majapahit sebagaimana silsilah berikut ini Abdussalam putra Abdul Jabbar putra Ahmad putra Pangeran Sumbu putra Pangeran Benowo putra jaka Tingkir (maskarebet) putra Lembu peteng Aqilah Brawijaya.
Nama KH. Abdus Salam kemudian lebih dikenal dengan nama Shoichah atau Kyai Shoichah kemudian beliau memperistri seorang putri dari kota Demak yaitu Muslimah. Dari pernikahanya beliau dikaruniai beberapa putra dan putri yaitu diantaranya yaitu Laiyyinah, Fatimah, Abu bakar, Murfu?ah, Jama?ah, Mustaharoh, Aly ma?un, Fatawi dan Abu Sakur. KH. Abdus Salam mempunyai beberapa santri. Dari santri-santri tersebut ada dua santri yang dijodohkan dengan putrinya yaitu Laiyyinah di jodohka dengan Ustman. Dari hasil pernikahanya beliau dikaruniai seorang putri bernama Winih (nama asalinya Halimah) dan Halimah dijodohkan dengan seorang santri yaitu As?ary dari Demak cikal bakal pendiri Pondok Pesantren Tebuireng. Sedangkan Fathimah dijodohka dengan Sa?id dari pernikahannya beliau di karuniai seorang putra yaitu Kasminah Chasbullah sebelum haji bernama Kasbi, Syafi?i sebelum haji bernama Kasdu, dan Asim sebelum haji bernama Kasmo.Setelah itu pondok nyelawe diteruskan oleh Kyai. Ustman. Dan Kyai. Sa?id mengembangkan sayap pendidikan pondok pesantren dengan mendirikan pondok pesantren disebelah barat dusun Gedang seelah mendapat izin dari ayah maratuanya, yang kini menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Setelah Kyai Ustman dan Kyai Sa?id, yang meneruskan kepemimpinan pondok pesantren adalah Chasbulloh putra Kyai Sa?id sedangkan Pondok Kyai Ustman dikarenakan beliau tidak mempunya putra sebagai penerus. Oleh sebab itu seluruh santri diboyong ke pondok barat dibawah asuhan Kyai. Chabulloh. Dalam mengembangkan Pondok Pesantren Kyai. Chabulloh ditemani seorang istri yang begitu sangat setia yaitu Nyai Latifah (asalnya A?isah) yang berasal dari desa Tawangsaari Sepanjang Sidoarjo. Pernikahan antara Kyai. Chabulloh dan Nyai Latifah dikaruniai putra-putri antara lain:
1. Kyai Abdul Wahab yang berputra K.Wahib, Khodijah, K. Najib Adib, Jammiyyah, mu?tamaroh, Muniroh, Mahfudloh, Hisbiyah, Munjidah, Hasib dan Rokib.
2. Kyai Abdul Hamid yang berputra K. Abdullah, K. Moh. Sholeh, K. Abdul malik, K. M. Yahya dan Hamidah.
3. Nyai Khodijah, (nyai Bisry) berputra Achmad, Sholikhah, Musyarofah, Abdul Aziz, M. Shokhib.
4. Kyai Abdurrahim berputra K. Ach. Al Fatich, Bariroh, K. Ach. Nasrullah, K. Amanullah, K. Khusnullah.(KH. Ach Nasrullah adalah Pediri Pondok Pesatren Assa'idiyah Bahrul Ulum)
5. Nyai Fatimah berputra Abdul Fattah, Mufattimah, Abdul Majid
6. Sholihah tidak berputra
7. Zuhriyah tidak berputra
8. Aminaturrokhiyah tidak berputra
Tahun 1920 adalah dimana kyai Chasbulloh dipanggil ke hadapan sang kholiq (wafat) kemudian pimpinan pondok pesantren diteruskan oleh putra-putranya yaitu Kyai Abdul Wahab, Kyai Abdul Hamid, dan Kyai Abdurrohim.
Nama Bahrul Ulum itu tidak muncul saat KH. Abdus Salam mengasuh pesantren tersebut. Nama itu justru berasal dari KH. Abdul Wahab Hasbullah. Ia memberikan nama resmi pesantren pada tahun 1967. Beberapa tahun kemudian pendiri N.U ini pulang ke rahmatullah pada tanggal 29 Desember 1971. Mulai tahun 1987 kepemimpinan pondok pesantren dipegang secara kolektif oleh Dewan Pengasuh yang diketuai oleh KH. M. Sholeh Abdul Hamid. Mereka juga mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang diketuai oleh KH. Ahmad Fatih Abd. Rohim.Para kiai yang mengasuh PP Bahrul Ulum itu diantaranya, KH. M. Sholeh Abdul Hamid, KH. Amanullah, KH. Hasib Abd. Wahab, Dibawah kepemimpinan KH. M. Sholeh, PPBU mengalami perkembangan sangat pesat hingga muncul berbagai macam ribat atau komplek diataranya yaitu Induk Al-Muhajirin I, II, III dan IV, Al-Muhajin putri I, II, III dan IV, As-Sa'idiyah putra I, II dan III, As-Sa'idiyah putri I,II dan III, Al-Muhibbin, Ar-Roudloh, Al-Ghozali putra dan putri, Al-Hikmah, Al-wahabiyah I dan II, Al-Fathimiyah, Al-Lathifiyah I, II dan III, An-Najiyah putra dan putrid, Assalma, Al Fattah, Al Asyari,Komplek Chasbullah, Al Maliki, Al Hamidiyah.
Setelah wafatnya KH. M. Sholeh Abdul Hamid pada tahun 2006 majlis pengasuh diteruskan oleh KH. Amanullah Abdurrahim yang wafat pada tahun 2007 hinga pada saat ini yaitu tahun 2010 majelis pengasuh PPBU adalah KH. Hasib Abd. Wahab
Banyak cerita yang mengisahkan kenapa KH. Abdus Salam seorang keturunan ningrat, bisa sampai ke desa kecil yang kala itu masih berupa hutan belantara penuh dengan binatang buas dan dikenal sebagai daerah angker.
KH. Abdus Salam meninggalkan kampung halamannya menuju Tambakberas untuk bersembunyi menghindari kejaran tentara Belanda. Bersama pengikutnya ia kemudian membangun perkampungan santri dengan mendirikan sebuah langgar (mushalla) dan tempat pondokan sementara buat 25 orang pengikutnya. Karena itu, pondok pesantren itu juga dikenal pondok selawe (dua puluh lima).
Perkembangan pondok pesantren ini mulai menonjol saat kepemimpinan pesantren dipegang oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, cicit KH. Abdus Salam. Setelah kembali dari belajar di Mekkah, ia segera melakukan revitalisasi piondok pesantren. Ia yang pertama kali mendirikan madrasah yang diberi nama Madrasah Mubdil Fan. Ia juga membentuk kelompok diskusi Taswirul Afkar dan mendirikan organisasi Nahdlatul Wathon yang kemudian dideklarasikan sebagai organisasi keagamaan dengan nama Nahdlatul Ulama (NU). Deklarasi itu ia lakukan bersama dengan KH. Hasyim Asy?ari dan ulama lainnya pada tahun 1926.
Nama Bahrul Ulum itu tidak muncul saat KH. Abdus Salam mengasuh pesantren tersebut. Nama itu justru berasal dari KH. Abdul Wahab Hasbullah. Ia memberikan nama resmi pesantren pada tahun 1967. Beberapa tahun kemudian pendiri NU ini pulang ke rahmatullah pada tanggal 29 Desember 1971.
Mulai tahun 1987 kepemimpinan pondok pesantren dipegang secara kolektif oleh Dewan Pengasuh yang diketuai oleh KH. M. Sholeh Abdul Hamid. Mereka juga mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang diketuai oleh KH. Ahmad Fatih Abd. Rohim. Para kiai yang mengasuh PP Bahrul Ulum itu diantaranya, KH. M. sholeh Abdul Hamid, KH. Amanullah, KH. Hasib Abd. Wahab,
Dibawah kepemimpinan KH. M. Sholeh, PPBU mengalami perkembangan sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dengan semakin membludaknya santri yang belajar di pondok pesantren yang telah banyak menghasilkan ulama dan politisi.KH. Abdurrahman Wahid mantan presiden ke 4 RI juga alumni pesantren yang sering kedatangan tamu dari pemerintah pusat ini. Santri yang belajar di PPBU tidak hanya datang dari daerah Jombang saja tapi juga dari seluruh wilayah Indonesia, bahkan juga dari Brunei Darussalam dan Malaysia.
Seiring dengan perkembangan pesantren yang semakin pesat, pengelolaan pesantren dilakukan secara profesional. Kegiatan pesantren sehari-hari tidak langsung ditangani oelh pengasuh. Tetapi diserahkan kepada pengurus Bahrul Ulum yang terdiri dari para Gus dan Ning (putra kiai), ustadz, ustadzah dan santri senior. Untuk operasionalnya dibentuk bidang-bidang dengan distribusi tugas secara teratur.
Selain itu, santri juga bisa mengikuti berbagai organisasi penunjuang dalam lingkungan pesantren seperti, Jam?iyyah Qurro? wa; Huffadh (JQH), Forum Kajian Islam (FKI), Corp Dakwah Santri Bahrul Ulum (CDS BU), Koppontren Bahrul Ulum, OSIS ada disetiap sekolah dan madrasah., Keluarga Pelajar Madrasah Bahrul Ulum, Organisasi Daerah (ORDA) organisasi ini merupakan wadah santri menurut asal daerah santri, Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (SM STT).
Kegiatan belajar santri PPBU dalam kesehariannya sangat variatif dan diklasifikasikan menurut jenjang pendidikannya masing-masing. Namun secara umum pengajian kitab salaf (literatur klasik) sangat menonjol. Disamping itu, santri juga diwajibkan mengikuti Madrasah Al-qur?an dan Madrasah Diniyah. Prgram takrorud durus (jam wajib belajar) waktunya ditetapkan oleh pengurus harian Bahrul Ulum.
PPBU juga menyelenggarakan kegiatan sosial seperti, sunatan massal, bakti sosial, penyuluhan masyarakat, pengiriman dai ke daerah-daerah tertinggal, panti anak yatim dan lain sebagainya.
Sebagai kaderisasi pesantren, agar kelangsungan pendidikan agama tetap berjalan dan tidak mengalami kemunduiran apalagi sampai pesantren mengalami bubar, para pengasuh mengirimkan putra-putri belajar ke pesantren lain juga menimba ilmu di perguruan tinggi, seperti putra KH. M. Sholeh ada yang dikirim belajar ke pesantren Lirboyo Kediri.
Penyelenggaraan Pendidikan
Pondok Pesantren Bahrul Ulum secara umum menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal. Untuk pendidikan formal mengacu pada kuriklum DEPAG dan DIKNAS. Adapun yang mengikuti kurikulum DEPAG, meliputi MI (Madrasah Ibtidaiyah) Bahrul Ulum, MTsN (Madrasah Tsanawiyah Negeri) Bahrul Ulum, MTs (Madrasah Tsanawiyah) Bahrul Ulum, MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Bahrul Ulum dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bahrul Ulum. Sedangkan pendidikan fromal yang mengikuti kurikulum DIKNAS meliputi, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bahrul Ulum, Sekolah Menengah Umum (SMU) Bahrul Ulum dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tehnik Bahrul Ulum.
Walaupun kegiatan pendidikan formal sangat padat, namun pengajian dan pendidikan kitab salaf tetap sangat dipentingkan. Dan sistem tradisional seperti sorogan, bandongan , wkton, takhassus, takror, tahfidh dan tadarrus tetap dipertahankan. Adapun jenjang pendidikan salaf meliputi TK, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Ibtidaiyah Program Khusus, Madrasah Diniyah, Madrasah Al-Qur?an, Madrasah Mu?allimin / Mu?allimat Atas dan Madrasah I?dadiyah Lil Jami?ah.
Selain itu PPBU dalam ikut mengembangkan minat dan bakat para santri juga memberikan kegiatan ekstra kurikuler, seperti majalah pesantren Menara, Marching Band, komputer, menjahit, elektronika, seni hadrah, seni qasidah, tata busana, tata boga, bela diri, pramuka, palang merah remaja (PMR), unit kesehatan sekolah (UKS) dan karya ilmiyah remaja. Disamping itu, pesantren juga menyelenggarakan pelatihan dan kegiatan ekstra keagamaan seperti pelatihan jurnalistik, bahasa asing, penelitian, kepemimpinan, kepustakaan, keorganisasian, advokasi masyarakat, kewirausahaan, manasik haji, seni baca Al-Qur?an , khutbah, pidato, bahtsul masail, diba?iyyah dan lain sebagainya.



Profil Pondok Pesantren Assaidiyah Bahrul Ulum



Pondok pesantren as-Saidiyah Bahrul ‘ulum yang didirikan oleh KH. Ach. Nashrullah Abdurrohim pada tahun 1985, adalah salah satu unit pesantren yang berada dalam naungan yayasan Bahrul ‘Ulum. Keberadaan pondok pesantren As-Saidiyah adalah sebagai upaya memperluas syiar islam dan melanjutkan para masyayikh Bahrul Ulum melalui pendalaman ajaran-ajaran islam ala Ahli sunah waljama’ah yang merujuk pada kitab-kitab salaf. Sehubungan dengan hal tersebut, maka keberadaan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum senantiasa menngupayakan agar para santrinya mampu mengaktualisasikan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang bersumber dari kitab-kitab salaf sesuai situasi dan kondisi saat ini. Dengan harapan pada masa akhir pendidikan dan kembali pada masyarakat, mereka akan menjadi insan kamil yang berakhlaqul karimah,
bermoral qur’ani, serta peduli dan respon terhadap persoalan-persoalan sosial yang ada ditengah masyarakat.
ViSI
Mencetak generasi muda islam yang cerdas, terampil, berwawasan dan berakhlaqul karimah.
MISI
• Mengembangkkan kecerdasan intelektual, emosional,dan spiritual santri.
• Mengembangkan keterampilan santri sesuai dengan minat dan bakat
• Membuka cakrawalan santri melalui diskusi dan Bahtsul kutub.
• Menanamkan akhlqul karimah santri dengan menerapkan norma-norma islam dan tindakan nyata sehari-hari.

Pendiri Ponpes Assa'idiyyah Bahrul Ulum



       Atas ridho Allah  telah lahir seorang bayi dari pasangan KH. Abdurrohim bin chasbullah dengan raden ajange Siti wardiyah dengan nama Ach. Nashrullah. Beliau tumbuh besar menjadi anak yang  sehat dan cerdas. Tapi sayang sebelum ayah nya menyaksikan kkeceradasan anaknya, KH. Abdurrohim dipanggil oleh Allah SWT. Jadilah beliau menjadi anak yatim yang setiap saat merasakan getir pahitya kehidupan pada zaman penjajahan jepang. Kelaparan dan rasa sakit sering ia tahan agar tidak semakin memberatkan beban ibunda yang janda dan masih sangat muda, karena masih ada adiknya yang saat itu masih balita yakni chisnullah dan Amanullah, serta kakaknya Alfatih dan siti Bariroh sudah sangat besar. Ujian bertubi-tbi menimpa keluarga Abdurrohim, karena sepeninggal beliau anak perempuan satu-satunya tersebut menderita sakit mata yang menyebabkan kebutaan sepanjang hidupnya.
Nyai siti mas Wardiyah akhirnya membesarkan dan mendidik lima anaknya dalam keadaan janda dan serba kekurangan. Hingga akhirnya beliau menikah lagi dengan KH. Mansur. Tidak puas dengan keadaan yang ada dirumah akhirnya ach. Nashrullah yang pada saat itu berusia 12 tahun sesudah tamat MI-BU merantau ke kota Bumi ayu Jawa Tengah dan di asuh oleh Kyai ma’sum di desa leren Bumi ayu. Kecerdasan beliau di ketahui oleh sang kyai, oleh karena itu rasa hormat dan sayangnya putra asuhnya diwujudkan denagn mengankat sebagai guru madrasah yang diasuh oleh Kyai ma’sum tersebut. Kurang lebih lima tahun di bumi ayu kemudian dipanggil pulang oleh KH. Wahab Hasbullah agar membantu mengelola pesantren yang saat itu sering di tinggal ke jakarta untuk urusan politik dan kenegaraan. Maka Ach. Nashrullah yang saat berusia 17 tahun telah tampil menjadi guru Nahwu dan bahasa Arab di pondok Al-latifiyyah  yang telah dirintis oleh kakeknya yang bernama chasbullah dan lathifah.
Guru muda dan primadona ini akhirnya menyunting gadis pilihan yang merupakan salah satu murid beliau dan lurah pondok saat itu, ia adalah Siti Zubaidah binti H. Sulaiman, gadis polos dari desa Keboan kecamatan kudu Jombang yang pandai melantunkan bacaan Al-Qur’an. Tanggal perkawinannya adalah 27 September 1958. dari perkawinan tersebut beliau melahirkan enam orang putra, lima perempuan dan satu laki-laki. Secara berurutan mereka adalah Munhidhatul Ummah, Umdatul Khoirot, Roidhatus Salamah, Zumrotus Sholichah, Moh. Habiburrahman dan yang terakhir Sa’adatul Athiyah. Kini mereka sudah menjadi manusia dewasa yang mengamban amanah Pesantren As-Sa’idiyah sepeninggal beliau.
 Perjuangannya sesudah menikah, Achmad Nasrullah yang saat itu terkenal terkenal dengan panggilan Gus Nasrul pulang kerumah mertua di Keboan. Disinilah Gus Nasrul melanjutkan perjuangannya menjadi guru ngaji dan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1961 dan sampai sekarang Madrasah tersebut masih hidup dan berkembang kurang lebih 21 tahun di Keboan lalu di panggil lagi untuk pulang ke tambakberas sesudah wafatnya KH. Wahab Chasbullah pada tahun 1977 beliau diangkat menjadi kepala Madrasah Mualimin Mualimat (MMA) BU kurang lebih selama 15 tahun.
 Tampaknya sudah menjadi garis yang khaliq bahwa kelahiran beliau ini memang untuk berjuang. Watak keras yang melingkupi diri beliau ini justru menjadi energi bagi semangat juangnya. Pada tahun 1985 beliau merintis As-Sa’idiyah yang sampai sekarang bisa kita manfaatkan bersama tanpa bergantung kepada bantuan pemerintah. Dan pada tahun 1981 mendirikan Madrasah I’idadiyah Lil Mu’alimin Wal Mu’alimat dua tahun, lalu pada tahun 1991 berubah menjadi Madrasah I’idadiyah Lil Jami’ah Bharul ‘Ulum Program lima tahun,  hingga pada tahun 2005  Madrasah I’idadiyah memiliki program baru yaitu hanya tiga tahun untuk menempuh study dan berlanjut hingga sekarang MAJ terus berkembang. Pada tahun ajaran 2009 ini MAI memiliki program baru yakni beasisiwa SPP dan asrama bagi seluruh murid baru. 
 Cita-cita beliau untuk mendirikan dan membesarkan Madrasah ini tidak pernah pudar sekalipun harus melalui jalan terjal yang memberatkan, terutama ketika belum mempunyai gedung sendiri kemudian dipaksa pindah dari tempat semula yang ditempati selama beberapa tahun, demi perjuangannya beliau KH. Achmad Nasrullah Abdurrahim rela mengorbankan sebagian rumahnya untuk belajar para siswa-siswi SPPT. Keadaan seperti ini berjalan selama tiga tahun dan alhamdulillah sekarang sudah memiliki gedung sendiri.
 Selain sebagain pendidik beliau pernah aktif di berbagai organisasi-organisasi yang ada dibawah naungan Nahdlotul ‘Ulama misalnya : Anshor, pernah menjadi Katib Syuriyaspur  NU Jawa Timur, Anggota pengurus pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah, juga menjadi hakim agama Pengadilan Negeri Jombang kurang lebih selama 10 tahun, pengurus MUI Jombang angota DPRD, Dosen Ilmu Fiqih di UNHASI Tebuireng Jombang yang sekarang berganti nama menjadi IKAHA.
POLA PEMIKIRAN BELIAU
Pola pemikiran abah KH. Achmad Nasrullah yang paling kental dalam sikap hidupnya adalah: moderat, salafi modern, dan kepekaan sosial. Moderat yang dimaksud disini adalah tidak kolot atau lalim juga disebut juga dengan ekstrim. Artinya adalah memandang suatu masalah yang berkaitan dengan hukum, tidak dikembalikan pada ketentuan fiqih murni (fiqih sentris) saja, tetapi lebih dikembalikan pada kaidah-kaidah fiqihiyah dimana faktor ilat hukum dan maslahat lebih sangat diperhatikan.  Misalnya pada zaman 70-an dimana memakai celana bagi kaum perempuan itu diharamkan oleh sebagian ulama, maka Kyai Nasrullah menetapkan “boleh” memakai celana selama tidak menyerupai laki-laki dan membawa rasa aman bagi perempuan itu.
 Kemudian yang kedua adalah bahwa beliau tetap ingin memperhatikan nilai-nilai lama, kitab-kitab salaf, ajaran-ajaran ulama’ salaf tapi disampaikan dengan pendekatan dan metode yang modern. Hal ini bisa kita lihat, misalnya dalam mengajar tafsir fiqih atau ilmu-ilmu yang lain. Dan didalam memberikan dan menerangkan pelajaran tidak tekstual, akan tetapi kepada anak didik diajarkan pula tentang materi-materi pelajaran itu dalam kaitannya dengan kehidupan yang dialami oleh anak didik dimana dan kapan mereka tinggal dan belajar (konstektual).
 Yang ketiga adalah Kepekaan Sosial. Sifat yang ketiga ini melekat dalam diri beliau barangkali karena beliau merasakan sendiri bagaimana menjadi anak yatim dan serba kekurangan. Karena itulah beliau mengajarkan bagaimana cara menyayangi orang-orang lemah(dhuafa’). Dalam praktek keseharian beliau selalu memperhatikan santri atau anak anak didik yang potensial tapi tidak mempunyai biaya dengan memberikan beasiswa ataupun dispensasi SPP. Memberikan dukungan moral maupun material kepada para santri terutama yang tak cukup biaya namun mempunyai prestasi dan kepandaian karena beliau sangat mencintai ilmu dan orang-orang pintar.
Inilah sekelumit tentang KH. Nasrullah yang amat kita cintai. Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah yang terbaik dari beliau.dan mudah-mudahan amal beliau diterima disisi-Nya. Amin...